
Pagi tadi aku membuat segelas kopi saja dan sarapan gehu.
tanpa blackmenthol dan bir, seperti kegemaranku dahulu. Betapa aneh
terasa, tanpa suara desing mesin tattoo dan senandung lirih lagu Lamb of god.
Aku lalu mencoba menatap monitor seharian seorang diri,
memain-mainkan mouse hingga tulang jemari hampir keropos.
lalu merasa gundah sendiri. Tetapi aku tetap tak mampu berhenti
memikirkanmu.
Siapakah kamu, belia yang berbaring
di sampingku waktu itu. Siapakah kamu.???
Seperti sepasang ular di liang sempit
kita telah saling melilit dan menggigit.
Telah kuhirup aroma khas kulitmu
dan bau harum rambutmu yang menyembur saat kau geraikan
telah membawaku ke tengah padang fantasi ...
pada suatu pagi hari yang basah seusai reda
hujan musim semi yang pertama.....
Setiap senti tubuhmu yang menerbitkan beribu mimpi
telah kutelusuri dengan jemari gemetar, dengan dada berdebar keras,
dan peluh yang menderas,......
tetapi kau hanya tertawa serta mengangkat bahu
saat aku berkeras ingin tahu masa lalumu
dan meminta catatan kalimat Dossa Rajjam Asmarra..
ketika kau bergegas berkemas sebelum berangkat pergi.
dan meninggalkan tamparan dipipi..
Ah, seperti kali kecil, kau selalu menolak bercermin.
Seperti warna-warni mentari dalam lukisan impresionis Dossa malam ini,
kau beralih berganti tanpa letih.....
Dan kemarin ketika aku meminta selembar gambarmu,
dengan ringan kau berkata tak acuh : ”Jangan menyimpan
kenangan tentang aku, itu semacam kecengengan yang tak perlu.”
Ajig ! Akupun tahu
hubungan kita tak punya masa depan. Harapan hanya impian.
Kini senja menyusut di jendela dan malam merambat perlahan.
Kurasakan betul
dingin menyelusup masuk lewat celah bawah pintu
mengendap dan menebal di lantai berdebu.
Untuk apa menyalakan lampu. Alangkah mengerikan
bila dalam terang aku hanya memergoki diri sendiri yang sepi.
Dalam temaram dan kelam aku merasa lebih tenteram dan aman. Seolah-olah
kau masih hadir di sini, diam di dekatku.
Menatap lekat dan lama tanpa berkata,
menemani.
Seperti seekor ikan menggelepar-gelepar
di atas pecahan-pecahan es, sukmaku yang telah menerima
kutukan itu akan menggeletar tak sabar menanti tiba
kabar berita darimu. Meski hanya sederetan sms di ponselku,
mungkin dari suatu tempat yang jauh....
Aku tidak berani memintamu untuk setia
--itu terlalu mustahil dan menggelikan bagimu, tentu--
hanya saja,
tolong, jangan lupakan Dossa...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar